PEMANFAATAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS
PEMANFAATAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS
E-Learning adalah pembelajaran yang memanfaatkan atau menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. E-Learning itu sendiri adalah suatu terminologi yang memiliki spektrum yang luas dan para ahli mendefinisikannya secara bervariasi. Menurut Encarta® World English Dictionary [North American Edition] © & (P)2009 Microsoft Corporation, yang disebut e-learning adalah: “the acquisition of knowledge and skill using electronic technologies such as computer- and Internet-based courseware and local and wide area networks”. (pengenalan ilmu pengetahuan dan kecakapan dengan menggunakan teknologi elektronik seperti komputer yang dipadukan dengan pembelajaran berbasis internet baik dalam bentuk jaringan local maupun jaringan yang luas). Dengan demikian e-learning adalah pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau dalam bahasa Inggris information and communication technology (ICT).
UNESCO seperti dikutip Chaeruman (2009), mengkategorikan pemanfaatan ICT untuk pembelajaran di sekolah ke dalam empat level seperti digambarkan sebagai berikut:
- Tahap emerging, artinya baru menyadari akan pentingnya TIK untuk pembelajaran dan belum berupaya untuk menerapkannya.
- Tahap applying, satu langkah lebih maju dimana TIK telah dijadikan sebagai obyek untuk dipelajari (learning to use ICT).
- Tahap integrating, TIK telah diintegrasikan ke dalam kurikulum (pembelajaran)
Sementara itu, bila dilihat dari sisi peran TIK bagi siswa, maka e-Learning yang sesungguhnya adalah pemanfaatan TIK secara relevan dan tepat oleh guru, memungkinkan siswa untuk:
- menjadi partisipan aktif. Jika pemanfaatan TIK dalam pembelajaran masih membuat siswa tetap pasif, seperti guru mengajar dengan menggunakan slide presentasi dimana yang masih dominan adalah dirinya, maka sia-sialah teknologi tersebut digunakan.
- menghasilkan dan berbagi (sharing) pengetahuan/keterampilan serta berpartisipasi sebanyak mungkin sebagaimana layaknya seorang ahli.
- belajar secara kolaboratif dengan siswa lain.
- mendorong siswa untuk mau belajar mandiri
- Jadi secara ideal, dengan e-Learning seharusnya memungkinkan terjadinya proses belajar yang:
- Aktif; memungkinkan siswa dapat terlibat aktif oleh adanya proses belajar yang menarik dan bermakna.
- Konstruktif; memungkinkan siswa dapat menggabungkan ide-ide baru kedalam pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya untuk memahami makna atau keinginan tahuan dan keraguan yang selama ini ada dalam benaknya.
- Kolaboratif; memungkinkan siswa dalam suatu kelompok atau komunitas yang saling bekerjasama, berbagi ide, saran atau pengalaman, menasehati dan memberi masukan untuk sesama anggota kelompoknya.
- Antusiastik; memungkinkan siswa dapat secara aktif dan antusias berusaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
- Dialogis; memungkinkan proses belajar secara inherent merupakan suatu proses sosial dan dialogis dimana siswa memperoleh keuntungan dari proses komunikasi tersebut baik di dalam maupun luar sekolah.
- Kontekstual; memungkinkan situasi belajar diarahkan pada proses belajar yang bermakna (realworld) melalui pendekatan ”problembased atau casebased learning”
- Reflektif; memungkinkan siswa dapat menyadari apa yang telah ia pelajari serta merenungkan apa yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri. (Jonassen (1995), dikutip oleh Chaeruman (2009) dari Norton et al (2001).
- Multisensory; memungkinkan pembelajaran dapat disampaikan untuk berbagai modalitas belajar (multisensory), baik audio, visual, maupun kinestetik (dePorter et al, 2000) dikutip oleh Chaeruman (2009).
- High order thinking skills training; memungkinkan untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (seperti problem solving, pengambilan keputusan, dll.) serta secara tidak langsung juga meningkatkan ”ICT & media literacy”.
TIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DI SEKOLAH
Kemajuan Teknologi pada semua sendi kehidupan dewasa ini telah mendorog setiap orang untuk terus berpacu untuk menjadi bagian dari kemajuan itu sendiri sehingga mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan peradaban yang ada. Demikianpun halnya yang terjadi dengan guru di sekolah mulai dari tingkat kelompok bermain sampai dengan perguruan tinggi, beradaptasi dengan kemajuan teknnologi informasi dan komunikasi (TIK) merupakan sesuatu keharusan dan mutlak untuk dilakukan karena hal itu menjadi bagian penting yang mamu membantu guru dan didik peserta dalam rangkaian proses pendidikan.
Dihapuskannya pembelajaran TIK, pada kurikulum 2013, tentu patut disayangkan. Hal ini disebabkan oleh masih banyak peserta didik termasuk guru-guru yang belum paham dalam penggunaan beberapa aplikasi TIK harus mulai meluangkan waktu untuk belajar secara mandiri sampai pada tingkat kemahiran tertentu. Padahal, baru dua dekade belakangan ini, Pemerintah Indonesia sangat concerns dengan pembelajaran TIK dan menganggap penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebagai aspek penting untuk meningkatkan efektivitas belajar mengajar di sekolah-sekolah. Kondisi ini memuntut setiap sekolah untuk kreatif dan mandiri mencari solusi agar pembelajaran di sekolah lebih efektif melalui penggunaan media TIK. Penggunaan TIK di lingkungan sekolah meskipun pada tataran user (pengguna) terhadap beberapa aplikasi TIK namun hal itu masih sangat kurang dan tidak merata di seluruh wilayah Indonesia.
Pada jenjang sekolah sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah pertama (SMP), penggunaan TIK dalam pembelajaran sangat bermanfaat terutama pembelajaran Bahasa Inggris.
Teknologi Informasi dan Komunikasi ( TIK ) secara umum didefinisikan sebagai alat yang mempunyai fungsi penunjang proses penyampaian pesan atau hal lain supeaya diketahui oleh pihak lain. Sejalan dengan berkembangnya teknologi, TIK dengan dukungan sistem dan jaringan (network) computer memungkinkan manusia untuk berkomunikasi dengan melihat fisik maupun mendengar suara secara langsung meskipun pihak-pihak yang berkomunikasi berada ditempat yang berbeda (Yati S. dkk.2010:2)
Hartoyo (2009) mengemukakan bahwa, salah satu permasalahan utama pembelajaran bahasa adalah terkait dengan metode pembelajaran. Upaya mencari metode pembelajaran yang lebih baik selalu didasari atas kritik terhadap kekurangan metode pembelajaran yang telah ada sebelumnya.
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh guru untuk mengubah model pembelajaran konvensional selama ini dan bermigrasi ke model pembelajaran yang mengunakan media TIK , seperti penggunaan:
1. Membuat “kelas maya”
Kelas maya maksudnya, guru dapat berinteraksi dengan peserta didiknya tanpa harus bertatap muka secara terus menerus dengan peserta didiknya di ruang kelas. Aplikasi yang bisa digunakan seperti Edmodo. Melalui aplikasi ini, guru bisa memberikan materi, tugass-tugas kepada peserta didiknya tanpa harus menulis di papan tulis. Demikianpun sebaliknya, peserta didik dapat berkomunikasi dengan gurunya melalui aplikasi ini. Kelas ini sangat efektif apabila didukung oleh fasilitas internet yang cukup lancar.
2. Membuat group tertutup yang berbasis on-line
Group yang berbasis on-line di sini hampir sama dengan “kelas maya” hanya bedanya ini penggunaan aplikasi ini lebih terbuka bagi semua anggota group yang tergabung di dalamnya. Aplikasi yang bisa digunakan adalah seperti facebook dan lain-lain. Melalui pembuatan group ini guru dan peserta didik dapat saling berinteraksi dan berbagi informasi satu dengan yang lainnya.
3. Membuat modul pembelajaran yang interaktif
Modul ini dapat digunakan secara on-line oleh peserta didik kapan dan dimana saja sepanjang memiliki jaringan internet yang bagus.
4. Menggunakan LCD proyektor, komputer atau teknologi lainnya yang relevan
Presentasi di kelas dengan LCD proyektor dapat memudahkan guru dan peserta didik untuk menerangkan hal-hal yang abstrak menjadi mudah untuk dipahami oleh siswa. LCD mampu membantu proses pembelajaran di kelas karena alat ini sebagai media untuk menampilkan sesuatu dari komputer/ tv yang mungkin sulit untuk dilihat oleh seluruh peserta didik dalam waktu yang bersamaan menjadi mudah karena bisa ditampilkan dalam ukuran yang lebih besar di depan ruang kelas. Melalui tayangan ini diharapkan minat dan partisipasi peserta didik untuk terlibat dalam pembelajaran semakin bagus. Misalnya, guru memaparkan materi menggunakan power point yang penuh dengan animasi menarik atau film lainnya yang berkaitan dengan materi pembelajran kemudian peserta didik diminta untuk menganalisisnya dan bahkan kalau memungkinkan guru dapat meminta mereka mempresentasikannya dengan menggunakan media TIK yang ada di sekolah masing-masing.
Berikut akan dibahas secara rinci mengenai penggunaan TIK dalam meningkatkan keempat skil dalam bahasa Inggris sehingga pembelajaran tidak terkesan monoton namun lebih variatif.
A. Speaking
Penggunaan TIK dalam peningkatan skill speaking di kelas dapat kita lihat melalui pembelajaran jarak jauh (tele-confrence) atau penggunaan fasilitas skype dan lain-lain. Kegiatan yang lebih sederhana di kelas spt, guru merekam dialog peserta didiknya kemudian menanyangkan kembali untuk dimintai komentar atau feedback dari peserta lainnya.
B. Reading
Di ruang kelas skill ini dapat dikembangkan dengan cara menampilkan teks dengan bantuan LCD proyektor kemudian meminta untuk membacanya. Selain itu guru dapat menugaskan peserta didik untuk secara individu membaca berita-berita on-line berbahasa Inggris.
C. Writing
Peserta didik dapat menuliskan ide-ide mereka dalam blog pribadi atau mengirimkan artikel mereka ke website sekolah, jika ada ruang khusus bagi peserta didik untuk memberikan gagasan atau ide. Selain itu mereka dapat mengirimkan atau mengunggah hasil tulisan mereka melalui email, facebook dan aplikasi lainnya.
D. Listening
Banyak aplikasi offline yang bisa digunakan sebagai media untuk penguatan listening skill diantaranya Balabolka. Aplikasi ini memungkinkan guru tidak perlu meminta bantuan rekannya untuk merekam dialog atau pembicaraan mereka namun guru cukup mencari teks yang ingin diperdengarkan oleh peserta didik kemudian di pindahkan di aplikasi Balabolka maka dengan sendirinya aplikasi itu akan membaca teks itu dengan berbagai pilihan suara sesuai dengan keinginan guru atau operatornya.
Peran Teknologi Dalam Mempelajari Bahasa Inggris
Revolusi digital telah mentransformasi wajah masyarakat global, dimana teknologi modern telah menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Ia mengubah cara kita berkomunikasi satu sama lain dan cara kita mengolah informasi. Oleh karenanya, tidaklah mengejutkan jika cara kita belajar juga berubah untuk selamanya.
Seiring dengan munculnya teknologi jaringan terbaru termasuk 5G dan kemungkinan adanya jaringan satelit broadband global, kesempatan untuk belajar akan menjadi kenyataan bagi seluruh orang di berbagai belahan dunia.
Akses terhadap teknologi yang lebih baik terbukti berharga di mata orang-orang yang mempelajari bahasa Inggris. Kini mereka akan lebih siap untuk tetap belajar secara independen dan mulai melihat pentingnya kelas tatap muka bersama para tenaga pengajar dan rekan pelajar mereka – yang berarti kemungkinan mereka menyelesaikan studi hingga akhir menjadi lebih besar.
Cara dan tujuan pembelajaran sebagai tawaran dari Wall Street English senantiasa berevolusi. Inovasi teknologi menembus batas-batas dalam mempelajari bahasa, baik dari membuat pembelajaran secara mandiri menjadi lebih efisien, menambah nilai pada waktu yang dihabiskan di kelas, atau dengan memberikan paparan yang lebih luas kepada pendidikan bahasa sehingga dapat diakses oleh lebih banyak orang. Dengan membawa keseluruhan layanan menjadi lebih dekat dengan tempat dan waktu permintaan, maka teknologi berperan penting dalam mendukung kesuksesan pembelajaran.
Pemanfaatan teknologi internet untuk pendidikan di Indonesia secara resmi dimulai sejak dibentuknya telematika tahun 19961). Masih ditahun yang sama dibentuk Asian Internet Interconnections Initiatives (www.ai3.itb.ac.id/indonesia). Jaringan yang dikoordinir oleh ITB ini bertujuan untuk pengenalan dan pengembangan teknologi internet untuk pendidikan dan riset, pengembangan backbone internet pendidikan dan riset di kawasan Asia Pasific bersama-sama perguruan tinggi di kawasan ASEAN dan Jepang, serta pengembangan informasi internet yang meliputi aspek ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, sosial, dan ekonomi. Hingga kini sudah ada 21 lembaga pendidikan tinggi (negeri dan swasta), lembaga riset nasional, serta intnasi terkait yang telah bergabung.
Seiring perkembangan zaman, pemanfaatan internet untuk pendidikan di Indonesia khususnya di perguruan tinggi terus berkembang. Misalnya tahun 2001 didirikan universitas maya Indonesia Bangkit University Teledukasi (IBUTeledukasi) bekerjasama dengan Universitas Tun Abdul Razak Malaysia, beberapa PT juga menawarkan program on-line course misalnya (www.petra.ac.id). Universitas Terbuka mengembangkan on-line tutorial (www.ut.ac.id/indonesia/tutorial.htm), Indonesia Digital Library Network mengembangkan perpustakaan elektronik (www.idln.itb.ac.id), dan lain-lain.
Pemanfaatan internet untuk pendidikan ini tidak hanya untuk pendidikan jarak jauh, akan tetapi juga dikembangkan dalam sistem pendidikan konvensional. Kini sudah banyak lembaga pendidikan terutama perguruan tinggi yang sudah mulai merintis dan mengembangkan model pembelajaran berbasis internet dalam mendukung sistem pendidikan konvensional. Namun suatu inovasi selalu saja menimbulkan pro dan kontra. Yang pro dengan berbagai dalih meyakinkan akan manfaat kecanggihan teknologi ini seperti; memudahkan komunikasi, sumber informasi dunia, memudahkan kerjasama, hiburan, berbelanja, dan kemudahan aktivitas lainnya. Sebaliknya yang kontra menunjukan sisi negatifnya, antara lain: biaya relatif besar dan mudahnya pengaruh budaya asing. Internet sebagai media baru ini juga belum begitu familier dengan masyarakat, termasuk personil lembaga pendidikan. Oleh karena itu sangat perlu terus dilakukan kajian, penelitian, dan pengembangan model e-learning.
Agar kita dapat mengoperasikan internet dengan baik, maka dibutuhkan perangkat keras dan perangkat lunak yang memadahi. Perangkat keras adalah komponen-komponen fisik yang membentuk suatu sistem komputer serta peralatan-peralatan lain yang mendukung komputer untuk melakukan tugasnya. Perangkat keras tersebut berupa:
(1) satu unit komputer,
(2) modem,
(3) jaringan telepon,
(4) adanya sambungan dengan ISP (Internet Service Provider).
Sedangkan perangkat lunak adalah program-program yang diperlukan untuk menjalankan perangkat keras komputer. Perangkat lunak ini kita pilih sesuai dengan:
(1) kemampuan perangkat keras yang kita miliki,
(2) kelengkapan layanan yang diberikan,
(3) kemudahan dari perangkat itu untuk kita operasikan dalam (User Friendly).
Metode Pembelajaran Melalui Internet
Pembelajaran berbasis internet bagi siswa sekolah dasar sudah seharusnya mulai dikenalkan. Untuk itu para guru hendaknya sudah tahu lebih dahulu tentang dunia internet sebelum menerapkan pembelajaran tersebut pada siswa. Persiapan yang tak kalah pentingnya yaitu sarana komputer. Tentu saja dalam hal ini hanya dapat diterapkan di sekolah-sekolah yang mempunyai fasilitas komputer yang memadai. Walaupun sebenarnya dapat juga diusahakan oleh sekolah yang tidak mempunyai fasilitas komputer misalnya dengan mendatangi warnet sebagai patner dalam pembelajaran tersebut.
Setelah semua perangkat untuk pembelajaran siap, guru mulai melakukan pembelajaran dengan menggunakan sumber belajar internet. Bagi siswa sekolah dasar tentu saja akses-akses yang ringan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diajarkan. Disinilah kepiawaian seorang guru ditampilkan dalam mendampingi, membimbing dan mengolah metode pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang diharapkan tercapai.
Beberapa metode yang dapat dilakukan oleh guru, diantaranya: diskusi, demonstrasi, problem solving, inkuiri, dan descoveri. Guru memberikan topik tertentu pada siswa, kemudian siswa mencari hal-hal yang berkaitan dengan hal tersebut dengan mencari (down load) dari internet. Guru juga dapat memberikan tugas-tugas ringan yang mengharuskan siswa mengakses dari internet. Siswa juga dapat belajar dari internet tentang hal-hal yang up to date yang berkaitan dengan pengetahuan. Guru memberi tugas pada siswa untuk mencari suatu peristiwa muthakir dari internet kemudian mendiskusikannya di kelas, lalu siswa menyusun laporan dari hasil diskusi tersebut.
Metode-metode tersebut dapat dilakukan guru dengan model-model pembelajaran yang bervariasi sehingga siswa semakin senang, tertarik untuk mempelajarinya sehingga proses pembelajaran tersebut menjadi pembelajaran yang bermakna. Dengan pembelajaran berbasis internet diharapkan siswa akan terbiasa berpikir kritis dan mendorong siswa untuk menjadi pembelajar otodidak. Siswa juga akan terbiasa mencari berbagai informasi dari berbagai sumber untuk belajar. Pembelajaran ini juga mendidik siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam kelompok kecil maupun tim. Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu dengan pembelajaran berbasis internet pengetahuan dan wawasan siswa berkembang, mampu meningkatkan hasil belajar siswa, dengan demikian mutu pendidikan juga akan meningkat.
Model Pembelajaran Internet
Ada tiga sistem pembelajaran melalui internet yang layak dipertimbangkan sebagai dasar pengembangan sistem pembelajaran dengan mendayagunakan internet,yaitu :
1. Web Course
Web course adalah penggunaan internet untuk keperluan pembelajaran,dimana seluruh bagian bahan belajar,diskusi,konsultasi,penugasan,latihan dan ujian sepenuhnya disampaikan melalui internet.Siswa dan guru sepenuhnya terpisah,namun hubungan atau komunikasi antara peserta didik dengan pengajar bisa dilakukan setiap saat.Komunikasi lebih banyak dilakukan secara ansynchronous daripada secara synchronous.Bentuk web course ini tidak memerlukan adanya kegiatan tatap muka baik untuk keperluan pembelajaran maupun evaluasi dan ujian,karena semua proses pembelajaran sepenuhnya menggunakan fasilitas internet seperti email,chat rooms,bulletin board dan online conference.Selain itu sistem ini biasanya juga dilengkapi dengan berbagai sumber belajar (digital),baik yang dikembangkan sendiri maupun dengan menggunakan berbagai sumber belajar dengan jalan membuat hubungan (link) keberbagai sumber belajar yang sudah tersedia pada internet,seperti data base statistic berita dan informasi,e-book,perpustakaan elektronik dan lain-lain.Bentuk pembelajaran model ini biasanya digunakan untuk keperluan pendidikan jarak jauh (distance education/learning).Aplikasi bentuk ini antara lain virtual campus/university ataupun lembaga pelatihan yang menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang bisa diikuti secara jarak jauh dan setelah lulus ujian akan diberikan sertifikat.
2. Web Centric Course
Sebagian bahan belajar,diskusi,konsultasi,penugasan,dan latihan disampaikan melalui internet,sedangkan ujian dan sebagian konsultasi,diskusi dan latihan dilakukan secara tatap muka,walaupun dalam proses belajarnya sebagian dilakukan dengan tatap muka yang biasaya berupa tutorial,tetapi presentase tatap muka tetap lebih kecil dibandingkan dengan presentase proses pembelajaran melalui internet.
Bentuk ini memberikan makna bahwa kegiatan belajar bergeser kegiatan dikelas menjadi kegiatan melalui internet sama dengan bentuk web course,siswa dan guru sepenuhnya terpisah tetapi pada waktu-waktu yang telah ditetapkan mereka bertatap muka,baik di sekolah maupun di tempat-tempat yang telah ditentukan seperti di ruang perpustakaan,taman bacaan,ataupun di balai pertemuan.
Penerapan bentuk ini sebagaimana telah dilakukan pada perguruan tinggi-perguruan tinggi terkemuka yang menggunakan sistem belajar secara of campus.
3. Web Enhanced Course
Web enhanced course merupakan pemanfaatan internet untuk pendidikan,untuk menunjang peningkatan kualitas belajar mengajar di kelas.Bentuk ini juga dikenal dengan nama web lite course,karena kegiatan pembelajaran utama adalah tatap muka di kelas.
Peranan internet disini adalah untuk menyediakan sumber-sumber belajar yang sangat kaya akan informasi dengan cara memberikan alamat-alamat atau membuat link ke berbagai sumber belajar yang sesuai dan bisa diakses secara online,untuk meningkatkan kuantitas dan memperluas kesempatan berkomunikasi antara pengajar dan peserta didik secara timbal balik. Dialog atau komunikasi dua arah tersebut dimaksudkan untuk keperluan berdiskusi,berkonsultasi,maupun untuk bekerja secara kelompok.Berbeda dengan kedua bentuk sebelumnya,pada bentuk web enhanced course ini presentase pembelajaran secara tatap muka,karena penggunaan internet adalah hanya untuk mendukung kegiatan pembelajaran secara tatap muka.Bentuk ini dapat pula dikatakan sebagai langkah awal bagi institusi pendidikan yang akan menyelenggarakn pembelajaran berbasis teknologi informasi,sebelum menyelenggarakn pembelajaran dengan internet secara kompleks,seperti web centric course ataupun web course.
Baik pada model ataupun web course,web centric course ataupun web enhanced course,terdapat beberapa komponen aktifitas seperti informasi,bahan belajar,pembelajaran ataupun komunikasi,penilaian bervariasi.Secara umum komponen aktifitas dan strukturnya dapat diterapkan dalam pengembangan pembelajaran melalui internet.
Pengembangan Model Pembelajaran Melalui Internet
Pengembangan sistem pembelajaran berbasis internet,terlebih dahulu dilakukan pengkajian atas seluruh unsur dan aspek sebagaimana telah diuraikan diatas,sehingga bisa didapatkan pegangan sebagai bahan pengambilan keputusan dalam pengembangan sistem pembelajaran berbasis internet.Disamping itu juga diperlukan pertimbangan dan penilaian atas beberapa hal yang tidak kalah pentingnya antara lain :
1. Keuntungan. Sejauh mana sistem pembelajaran berbasis internet akan memberikan keuntungan bagi institusi,staf pengajar,pengelola,dan terutama keuntungan yang akan diperoleh siswa dalam meningkatkan kualitas mereka apabila dibandingkan dengan penyelenggaraan pembelajaran tetap muka secara konvensional.
2. Biaya pengembangan infrastruktur serta pengadaan peralatan sofware.
3. Biaya yang diperlukan untuk mengembangkan infrastruktur,mengadakan peralatan serta sofware tidaklah sedikit.Untuk itu perlu dipertimbangkan hal-hal seperti,apakah akan membangun suatu jaringan secara penuh ataukah secara bertahap,apakah akan mengadakan peralatan yang sama sekali baru ataukah meng-upgrade yang sudah ada atau scound.Mesti diperhatikan bahwa sofwere yang asli bukan bajakan harganya relatif mahal.Untuk itu dipertimbangkan kemampuan menyediakan dana dalam setiap pengambilan keputusan.
4. Biaya Operasional dan Perawatan. Suatu sistem akan berjalan apabila dikelola secara baik.Dengan demikian,sistem pembelajaran berbasis internet ini,juga diperlukan biaya operasional dan perawatan yang tentunya tidak sedikit.Biaya operasional,honor pengelolaan,biaya langganan ISP (Internet Service Provider),biaya langganan saluran telepon tersendiri dan biaya pulsa telepon apabila berkeinginan menggunakan dial-up.Sedangkan biaya perawatan termasuk penggantian suku cadang yang mengalami kerusakan baik karena umur maupun kesalahan prosedur pemakaian.Untuk menanggulangi biaya operasional dan perawatan tersebut,dapat dilakukan dengan mendayagunakan sistem tersebut agar mampu menghasilkan uang (income generating),antara lain dengan membuka warnet untuk umum,mengadakan pelatihan-pelatihan dan lain-lain.
5. Sumberdaya Manusia. Untuk mengembangkan dan mengelola jaringan dan sistem pembelajaran,diperlukan sejumlah sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi dan integritas yang tinggi.Dalam hal ini termasuk guru-guru yang harus memahami prinsip-prinsip pembelajaran melalui internet.Untuk keperluan itu hendaknya dilakukan identifikasi dan kemudian dipersiapkan tenaga-tenaga tersebut,apakah bisa dicukupi dari dalam ataukah harus merekrut tenaga-tenaga baru.Untuk membekali tenaga-tenaga tersebut perlu diberikan pelatihan,diperhitungkan lama waktu pelatihan,tempat pelatihan,cara pelatihan agar bisa menghasilkan tenaga yang memiliki kualifikasi.
6. Siswa. Yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan adalah mengetahui sejauh mana kesiapan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dengan menggunakan internet yang akan diselenggarakan.Kalau internet merupakan sesuatu yang baru bagi sebagian besar siswa,tentunya perlu dilakukan serangkaian upaya untuk mengkondisikan agar mereka berpartisipasi secara aktif dalam sistem pembelajaran yang baru tersebut.Ada hal yang tidak mudah untuk merubah kebiasaan mereka yang telah terbiasa belajar secara tatap muka secara konvensional selama bertahun-tahun,yang tentunya telah menjadi gaya belajar atau kebiasaan yang sudah mendarah daging.
Berdasarkan kajian dan pertimbangan sebagaimana telah dibahas diatas,kemudian sistem pembelajaran internet dikembangkan melalui tiga cara pengembangan yaitu:
1) Menggunakan seperlunya fasilitas internet yang telah ada,seperti e-mail,IRC (Internet Relay Chat),word wide web,search engine,millis (milling list) dan FTP (File Transfer Protocol).
2) Menggunakan sofware pengembang program pembelajaran dengan internet yang dikenal dengan Web-Course Tools,yang diantaranya bisa didapatkan secara gratis ataupun bisa juga dengan membelinya.Ada beberapa vendor yang mengembangkan Web Course Tools seperti WebCT, Webfuse, TopClass dan lain-lain.
3) Mengembangkan sendiri program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan (tailor made),dengan menggunakan bahasa pemograman seperti ASP (Active Server Pages) dan lain-lain.Setiap cara memiliki kelebihan dan kekurangan,misalnya pengembangan program pembelajaran dengan menggunakan fasilitas internet mempunyai kelebihan biayanya sangat murah dibandingkan yang lain,namun ada kekurangan yaitu dalam pengelolaan agak sulit karena sifatnya tidak terintegrasi.Sedangkan apabila menggunakan Web Course Tools atau pengembangan secara taillor-made biayanya jauh lebih mahal,namun memiliki kelebihannya yakni mudah dalam pengembangan dan pengelolaanya,lebih power full,dan sesuai dengan kebutuhan.Untuk memilih salah satu cara yang akan dipakai,ditentukan pada pertimbangan berdasarkan kajian terhadap berbagai hal seperti yang telah dibahas dibagian terdahulu tadi.Namun pada dasarnya mendayagunakan internet untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan adalah hal sangat layak untuk segera dilaksanakan secara luas di institusi-institusi penyelenggara pendidikan di Indonesia.
Aplikasi Pembelajaran melalui Teknologi Informasi
Teknologi pendidikan dapat mengubah cara pembelajaran yang konvensional menjadi nonkonvensional . Dalam proses pembelajaran , aplikasi e-learning dapat mencakup aspek perencanaan , implementasi, dan evaluasi. Saat berlangsungnya proses pembelajaran diperlukan perencanaan yang baik mengenai aktivitas yang akan dilakukan. Pada dasarnya aplikasi pembelajaran melalui teknologi informasi memuat beberapa hal, yaitu rencana, perkiraan dan gambaran umum kegiatan belajar dengan menggunakan dan memanfaatkan jaringan komputer.
Ada empat komponen yang terdapat dalam perencanaan pembelajaran, yaitu : materi, kegiatan belajar mengajar seerta evaluasi. Komponen tujuan berfungsi untuk menentukan arah kegiatan pada saat pembelajaran berlangsung. Rumusan pembelajaran tidak hanya menggmbarkan hasil melainkan juga menggambarkan kegiatan atau proses pembelajaran .
Penetapan materi (bahan ajar) akan berfungsi untuk memberi makna terhadap upaya pencapaian tujuan. Dalam hal ini terlihat jelas perbedaan dalam penerapan belajar konvensiaonal dan e-learning . Pada pembelajaran konvensional guru menggunakan metode pembelajaran yang dipilihnya , dan bahan ajar telah disediakan dalam buku paket yang akan disampaikan guru setiap kali tatap muka .
Sedangkan dalam pembelajaran menggunakan e-learning , kita dapat mengakses langsung bahan ajar pada beberapa halaman web yang telah dibuat selain dengan menggunakan bahan ajar yang telah tersedia . Maka perolehan informasi akan lebih luas , mendalam serta bervariasi. Kegiatan belajar mengajar yang tercakup dalam perencanaan pembelajaran pada intinya memuat deskripsi materi, metode pembeljaran, dan media yang digunakan dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran berbasis e-learning penent uan bahan ajar hanya pokok-pokoknya saja , karena deskripsi lengkapnya disediakan dalam halaman web yang akan diakses siswa.
Evaluasi merupakan bagian terakhir dari komponen perencanaan pembelajaran yang berfungsi untuk mengukur sejauh mana kemampuan siswa menuasai materi yang telah diajarkan selama pembelajaran berlangsung dan untuk mengetahui sejauh man tujuan pembelajaran telah dicapai dan tindakan apa yang harus dilakukan pabila tujuan pembelajaran belum tercapai. Evaluasi dapat dilakukan dengan bervariasi , bisa berupa pertanyaan, tugas-tugas, dan atau latihan-latihan yang harus dikerjakan siswa.
Terdapat beberapa model penerapan yang digunakan dalam implementasi pebelajaran e-learning , yaitu : Selective Model , Sequential Model Statc Station Model dan Laboratory Model . Untuk lebih jelasnya , perhatikan uraian dibawah ini.
a. Selective Model
Model ini digunakan apabila media komputer yang tersedia disekolah sangat terbatas , misalnya hanya ada satu komputer saja . Maka guru harus dapat memilih salah satu media yang dirasa tepat untuk menyampikan materi kepada siswa . Dan apabila guru menemukan bahan ajar yang dinili berkualitas guru harus menyampaikannya dengan cara demonstrasi saja . Akan tetapi apabila media komputer tersedia lebih dari satu , siswa harus diberi kesempatan untuk mendapat pengalaman langsung.
b. Sequential Model
Model ini digunkan apabila jumlah komputer di sekolah terbatas, mislnya hanya ada dua unit komputer .guru harus pandi mengatur dan mengarahkan siswanya , misalnya dengan pembagian kelompok kecil agar siswa dapat mencari sumber informasi baru ataupun rujukan bahan pembelajaran secara bergliran.
c. Static Station Model
Model ini sama halnya dengan model selective dan sequential , yaitu apabila di sekolah hanya memiliki jumlah komputer yang minim. Namun dalam model ini guru memiliki beberapa sumber belajar ang berbeda tetapi untuk mencapai tujun pembelajaran yang sama .
d. Laboratory Model
Dalam model ini, bahan e-learning dapat digunakan oleh seluruh siswa sebagai pembelajaran, karena di sekolahnya telah memiliki sejumlah kompter (laboratorium) yang juga dilengkapi dengan jaringan internet.
Seiring perkembangan zaman, pemanfaatan internet untuk pendidikan di Indonesia khususnya di perguruan tinggi terus berkembang. Misalnya tahun 2001 didirikan universitas maya Indonesia Bangkit University Teledukasi (IBUTeledukasi) bekerjasama dengan Universitas Tun Abdul Razak Malaysia, beberapa PT juga menawarkan program on-line course misalnya (www.petra.ac.id). Universitas Terbuka mengembangkan on-line tutorial (www.ut.ac.id/indonesia/tutorial.htm), Indonesia Digital Library Network mengembangkan perpustakaan elektronik (www.idln.itb.ac.id), dan lain-lain.
Pemanfaatan internet untuk pendidikan ini tidak hanya untuk pendidikan jarak jauh, akan tetapi juga dikembangkan dalam sistem pendidikan konvensional. Kini sudah banyak lembaga pendidikan terutama perguruan tinggi yang sudah mulai merintis dan mengembangkan model pembelajaran berbasis internet dalam mendukung sistem pendidikan konvensional. Namun suatu inovasi selalu saja menimbulkan pro dan kontra. Yang pro dengan berbagai dalih meyakinkan akan manfaat kecanggihan teknologi ini seperti; memudahkan komunikasi, sumber informasi dunia, memudahkan kerjasama, hiburan, berbelanja, dan kemudahan aktivitas lainnya. Sebaliknya yang kontra menunjukan sisi negatifnya, antara lain: biaya relatif besar dan mudahnya pengaruh budaya asing. Internet sebagai media baru ini juga belum begitu familier dengan masyarakat, termasuk personil lembaga pendidikan. Oleh karena itu sangat perlu terus dilakukan kajian, penelitian, dan pengembangan model e-learning.
Agar kita dapat mengoperasikan internet dengan baik, maka dibutuhkan perangkat keras dan perangkat lunak yang memadahi. Perangkat keras adalah komponen-komponen fisik yang membentuk suatu sistem komputer serta peralatan-peralatan lain yang mendukung komputer untuk melakukan tugasnya. Perangkat keras tersebut berupa:
(1) satu unit komputer,
(2) modem,
(3) jaringan telepon,
(4) adanya sambungan dengan ISP (Internet Service Provider).
Sedangkan perangkat lunak adalah program-program yang diperlukan untuk menjalankan perangkat keras komputer. Perangkat lunak ini kita pilih sesuai dengan:
(1) kemampuan perangkat keras yang kita miliki,
(2) kelengkapan layanan yang diberikan,
(3) kemudahan dari perangkat itu untuk kita operasikan dalam (User Friendly).
Metode Pembelajaran Melalui Internet
Pembelajaran berbasis internet bagi siswa sekolah dasar sudah seharusnya mulai dikenalkan. Untuk itu para guru hendaknya sudah tahu lebih dahulu tentang dunia internet sebelum menerapkan pembelajaran tersebut pada siswa. Persiapan yang tak kalah pentingnya yaitu sarana komputer. Tentu saja dalam hal ini hanya dapat diterapkan di sekolah-sekolah yang mempunyai fasilitas komputer yang memadai. Walaupun sebenarnya dapat juga diusahakan oleh sekolah yang tidak mempunyai fasilitas komputer misalnya dengan mendatangi warnet sebagai patner dalam pembelajaran tersebut.
Setelah semua perangkat untuk pembelajaran siap, guru mulai melakukan pembelajaran dengan menggunakan sumber belajar internet. Bagi siswa sekolah dasar tentu saja akses-akses yang ringan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diajarkan. Disinilah kepiawaian seorang guru ditampilkan dalam mendampingi, membimbing dan mengolah metode pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang diharapkan tercapai.
Beberapa metode yang dapat dilakukan oleh guru, diantaranya: diskusi, demonstrasi, problem solving, inkuiri, dan descoveri. Guru memberikan topik tertentu pada siswa, kemudian siswa mencari hal-hal yang berkaitan dengan hal tersebut dengan mencari (down load) dari internet. Guru juga dapat memberikan tugas-tugas ringan yang mengharuskan siswa mengakses dari internet. Siswa juga dapat belajar dari internet tentang hal-hal yang up to date yang berkaitan dengan pengetahuan. Guru memberi tugas pada siswa untuk mencari suatu peristiwa muthakir dari internet kemudian mendiskusikannya di kelas, lalu siswa menyusun laporan dari hasil diskusi tersebut.
Metode-metode tersebut dapat dilakukan guru dengan model-model pembelajaran yang bervariasi sehingga siswa semakin senang, tertarik untuk mempelajarinya sehingga proses pembelajaran tersebut menjadi pembelajaran yang bermakna. Dengan pembelajaran berbasis internet diharapkan siswa akan terbiasa berpikir kritis dan mendorong siswa untuk menjadi pembelajar otodidak. Siswa juga akan terbiasa mencari berbagai informasi dari berbagai sumber untuk belajar. Pembelajaran ini juga mendidik siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam kelompok kecil maupun tim. Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu dengan pembelajaran berbasis internet pengetahuan dan wawasan siswa berkembang, mampu meningkatkan hasil belajar siswa, dengan demikian mutu pendidikan juga akan meningkat.
Model Pembelajaran Internet
Ada tiga sistem pembelajaran melalui internet yang layak dipertimbangkan sebagai dasar pengembangan sistem pembelajaran dengan mendayagunakan internet,yaitu :
1. Web Course
Web course adalah penggunaan internet untuk keperluan pembelajaran,dimana seluruh bagian bahan belajar,diskusi,konsultasi,penugasan,latihan dan ujian sepenuhnya disampaikan melalui internet.Siswa dan guru sepenuhnya terpisah,namun hubungan atau komunikasi antara peserta didik dengan pengajar bisa dilakukan setiap saat.Komunikasi lebih banyak dilakukan secara ansynchronous daripada secara synchronous.Bentuk web course ini tidak memerlukan adanya kegiatan tatap muka baik untuk keperluan pembelajaran maupun evaluasi dan ujian,karena semua proses pembelajaran sepenuhnya menggunakan fasilitas internet seperti email,chat rooms,bulletin board dan online conference.Selain itu sistem ini biasanya juga dilengkapi dengan berbagai sumber belajar (digital),baik yang dikembangkan sendiri maupun dengan menggunakan berbagai sumber belajar dengan jalan membuat hubungan (link) keberbagai sumber belajar yang sudah tersedia pada internet,seperti data base statistic berita dan informasi,e-book,perpustakaan elektronik dan lain-lain.Bentuk pembelajaran model ini biasanya digunakan untuk keperluan pendidikan jarak jauh (distance education/learning).Aplikasi bentuk ini antara lain virtual campus/university ataupun lembaga pelatihan yang menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang bisa diikuti secara jarak jauh dan setelah lulus ujian akan diberikan sertifikat.
2. Web Centric Course
Sebagian bahan belajar,diskusi,konsultasi,penugasan,dan latihan disampaikan melalui internet,sedangkan ujian dan sebagian konsultasi,diskusi dan latihan dilakukan secara tatap muka,walaupun dalam proses belajarnya sebagian dilakukan dengan tatap muka yang biasaya berupa tutorial,tetapi presentase tatap muka tetap lebih kecil dibandingkan dengan presentase proses pembelajaran melalui internet.
Bentuk ini memberikan makna bahwa kegiatan belajar bergeser kegiatan dikelas menjadi kegiatan melalui internet sama dengan bentuk web course,siswa dan guru sepenuhnya terpisah tetapi pada waktu-waktu yang telah ditetapkan mereka bertatap muka,baik di sekolah maupun di tempat-tempat yang telah ditentukan seperti di ruang perpustakaan,taman bacaan,ataupun di balai pertemuan.
Penerapan bentuk ini sebagaimana telah dilakukan pada perguruan tinggi-perguruan tinggi terkemuka yang menggunakan sistem belajar secara of campus.
3. Web Enhanced Course
Web enhanced course merupakan pemanfaatan internet untuk pendidikan,untuk menunjang peningkatan kualitas belajar mengajar di kelas.Bentuk ini juga dikenal dengan nama web lite course,karena kegiatan pembelajaran utama adalah tatap muka di kelas.
Peranan internet disini adalah untuk menyediakan sumber-sumber belajar yang sangat kaya akan informasi dengan cara memberikan alamat-alamat atau membuat link ke berbagai sumber belajar yang sesuai dan bisa diakses secara online,untuk meningkatkan kuantitas dan memperluas kesempatan berkomunikasi antara pengajar dan peserta didik secara timbal balik. Dialog atau komunikasi dua arah tersebut dimaksudkan untuk keperluan berdiskusi,berkonsultasi,maupun untuk bekerja secara kelompok.Berbeda dengan kedua bentuk sebelumnya,pada bentuk web enhanced course ini presentase pembelajaran secara tatap muka,karena penggunaan internet adalah hanya untuk mendukung kegiatan pembelajaran secara tatap muka.Bentuk ini dapat pula dikatakan sebagai langkah awal bagi institusi pendidikan yang akan menyelenggarakn pembelajaran berbasis teknologi informasi,sebelum menyelenggarakn pembelajaran dengan internet secara kompleks,seperti web centric course ataupun web course.
Baik pada model ataupun web course,web centric course ataupun web enhanced course,terdapat beberapa komponen aktifitas seperti informasi,bahan belajar,pembelajaran ataupun komunikasi,penilaian bervariasi.Secara umum komponen aktifitas dan strukturnya dapat diterapkan dalam pengembangan pembelajaran melalui internet.
Pengembangan Model Pembelajaran Melalui Internet
Pengembangan sistem pembelajaran berbasis internet,terlebih dahulu dilakukan pengkajian atas seluruh unsur dan aspek sebagaimana telah diuraikan diatas,sehingga bisa didapatkan pegangan sebagai bahan pengambilan keputusan dalam pengembangan sistem pembelajaran berbasis internet.Disamping itu juga diperlukan pertimbangan dan penilaian atas beberapa hal yang tidak kalah pentingnya antara lain :
1. Keuntungan. Sejauh mana sistem pembelajaran berbasis internet akan memberikan keuntungan bagi institusi,staf pengajar,pengelola,dan terutama keuntungan yang akan diperoleh siswa dalam meningkatkan kualitas mereka apabila dibandingkan dengan penyelenggaraan pembelajaran tetap muka secara konvensional.
2. Biaya pengembangan infrastruktur serta pengadaan peralatan sofware.
3. Biaya yang diperlukan untuk mengembangkan infrastruktur,mengadakan peralatan serta sofware tidaklah sedikit.Untuk itu perlu dipertimbangkan hal-hal seperti,apakah akan membangun suatu jaringan secara penuh ataukah secara bertahap,apakah akan mengadakan peralatan yang sama sekali baru ataukah meng-upgrade yang sudah ada atau scound.Mesti diperhatikan bahwa sofwere yang asli bukan bajakan harganya relatif mahal.Untuk itu dipertimbangkan kemampuan menyediakan dana dalam setiap pengambilan keputusan.
4. Biaya Operasional dan Perawatan. Suatu sistem akan berjalan apabila dikelola secara baik.Dengan demikian,sistem pembelajaran berbasis internet ini,juga diperlukan biaya operasional dan perawatan yang tentunya tidak sedikit.Biaya operasional,honor pengelolaan,biaya langganan ISP (Internet Service Provider),biaya langganan saluran telepon tersendiri dan biaya pulsa telepon apabila berkeinginan menggunakan dial-up.Sedangkan biaya perawatan termasuk penggantian suku cadang yang mengalami kerusakan baik karena umur maupun kesalahan prosedur pemakaian.Untuk menanggulangi biaya operasional dan perawatan tersebut,dapat dilakukan dengan mendayagunakan sistem tersebut agar mampu menghasilkan uang (income generating),antara lain dengan membuka warnet untuk umum,mengadakan pelatihan-pelatihan dan lain-lain.
5. Sumberdaya Manusia. Untuk mengembangkan dan mengelola jaringan dan sistem pembelajaran,diperlukan sejumlah sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi dan integritas yang tinggi.Dalam hal ini termasuk guru-guru yang harus memahami prinsip-prinsip pembelajaran melalui internet.Untuk keperluan itu hendaknya dilakukan identifikasi dan kemudian dipersiapkan tenaga-tenaga tersebut,apakah bisa dicukupi dari dalam ataukah harus merekrut tenaga-tenaga baru.Untuk membekali tenaga-tenaga tersebut perlu diberikan pelatihan,diperhitungkan lama waktu pelatihan,tempat pelatihan,cara pelatihan agar bisa menghasilkan tenaga yang memiliki kualifikasi.
6. Siswa. Yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan adalah mengetahui sejauh mana kesiapan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dengan menggunakan internet yang akan diselenggarakan.Kalau internet merupakan sesuatu yang baru bagi sebagian besar siswa,tentunya perlu dilakukan serangkaian upaya untuk mengkondisikan agar mereka berpartisipasi secara aktif dalam sistem pembelajaran yang baru tersebut.Ada hal yang tidak mudah untuk merubah kebiasaan mereka yang telah terbiasa belajar secara tatap muka secara konvensional selama bertahun-tahun,yang tentunya telah menjadi gaya belajar atau kebiasaan yang sudah mendarah daging.
Berdasarkan kajian dan pertimbangan sebagaimana telah dibahas diatas,kemudian sistem pembelajaran internet dikembangkan melalui tiga cara pengembangan yaitu:
1) Menggunakan seperlunya fasilitas internet yang telah ada,seperti e-mail,IRC (Internet Relay Chat),word wide web,search engine,millis (milling list) dan FTP (File Transfer Protocol).
2) Menggunakan sofware pengembang program pembelajaran dengan internet yang dikenal dengan Web-Course Tools,yang diantaranya bisa didapatkan secara gratis ataupun bisa juga dengan membelinya.Ada beberapa vendor yang mengembangkan Web Course Tools seperti WebCT, Webfuse, TopClass dan lain-lain.
3) Mengembangkan sendiri program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan (tailor made),dengan menggunakan bahasa pemograman seperti ASP (Active Server Pages) dan lain-lain.Setiap cara memiliki kelebihan dan kekurangan,misalnya pengembangan program pembelajaran dengan menggunakan fasilitas internet mempunyai kelebihan biayanya sangat murah dibandingkan yang lain,namun ada kekurangan yaitu dalam pengelolaan agak sulit karena sifatnya tidak terintegrasi.Sedangkan apabila menggunakan Web Course Tools atau pengembangan secara taillor-made biayanya jauh lebih mahal,namun memiliki kelebihannya yakni mudah dalam pengembangan dan pengelolaanya,lebih power full,dan sesuai dengan kebutuhan.Untuk memilih salah satu cara yang akan dipakai,ditentukan pada pertimbangan berdasarkan kajian terhadap berbagai hal seperti yang telah dibahas dibagian terdahulu tadi.Namun pada dasarnya mendayagunakan internet untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan adalah hal sangat layak untuk segera dilaksanakan secara luas di institusi-institusi penyelenggara pendidikan di Indonesia.
Aplikasi Pembelajaran melalui Teknologi Informasi
Teknologi pendidikan dapat mengubah cara pembelajaran yang konvensional menjadi nonkonvensional . Dalam proses pembelajaran , aplikasi e-learning dapat mencakup aspek perencanaan , implementasi, dan evaluasi. Saat berlangsungnya proses pembelajaran diperlukan perencanaan yang baik mengenai aktivitas yang akan dilakukan. Pada dasarnya aplikasi pembelajaran melalui teknologi informasi memuat beberapa hal, yaitu rencana, perkiraan dan gambaran umum kegiatan belajar dengan menggunakan dan memanfaatkan jaringan komputer.
Ada empat komponen yang terdapat dalam perencanaan pembelajaran, yaitu : materi, kegiatan belajar mengajar seerta evaluasi. Komponen tujuan berfungsi untuk menentukan arah kegiatan pada saat pembelajaran berlangsung. Rumusan pembelajaran tidak hanya menggmbarkan hasil melainkan juga menggambarkan kegiatan atau proses pembelajaran .
Penetapan materi (bahan ajar) akan berfungsi untuk memberi makna terhadap upaya pencapaian tujuan. Dalam hal ini terlihat jelas perbedaan dalam penerapan belajar konvensiaonal dan e-learning . Pada pembelajaran konvensional guru menggunakan metode pembelajaran yang dipilihnya , dan bahan ajar telah disediakan dalam buku paket yang akan disampaikan guru setiap kali tatap muka .
Sedangkan dalam pembelajaran menggunakan e-learning , kita dapat mengakses langsung bahan ajar pada beberapa halaman web yang telah dibuat selain dengan menggunakan bahan ajar yang telah tersedia . Maka perolehan informasi akan lebih luas , mendalam serta bervariasi. Kegiatan belajar mengajar yang tercakup dalam perencanaan pembelajaran pada intinya memuat deskripsi materi, metode pembeljaran, dan media yang digunakan dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran berbasis e-learning penent uan bahan ajar hanya pokok-pokoknya saja , karena deskripsi lengkapnya disediakan dalam halaman web yang akan diakses siswa.
Evaluasi merupakan bagian terakhir dari komponen perencanaan pembelajaran yang berfungsi untuk mengukur sejauh mana kemampuan siswa menuasai materi yang telah diajarkan selama pembelajaran berlangsung dan untuk mengetahui sejauh man tujuan pembelajaran telah dicapai dan tindakan apa yang harus dilakukan pabila tujuan pembelajaran belum tercapai. Evaluasi dapat dilakukan dengan bervariasi , bisa berupa pertanyaan, tugas-tugas, dan atau latihan-latihan yang harus dikerjakan siswa.
Terdapat beberapa model penerapan yang digunakan dalam implementasi pebelajaran e-learning , yaitu : Selective Model , Sequential Model Statc Station Model dan Laboratory Model . Untuk lebih jelasnya , perhatikan uraian dibawah ini.
a. Selective Model
Model ini digunakan apabila media komputer yang tersedia disekolah sangat terbatas , misalnya hanya ada satu komputer saja . Maka guru harus dapat memilih salah satu media yang dirasa tepat untuk menyampikan materi kepada siswa . Dan apabila guru menemukan bahan ajar yang dinili berkualitas guru harus menyampaikannya dengan cara demonstrasi saja . Akan tetapi apabila media komputer tersedia lebih dari satu , siswa harus diberi kesempatan untuk mendapat pengalaman langsung.
b. Sequential Model
Model ini digunkan apabila jumlah komputer di sekolah terbatas, mislnya hanya ada dua unit komputer .guru harus pandi mengatur dan mengarahkan siswanya , misalnya dengan pembagian kelompok kecil agar siswa dapat mencari sumber informasi baru ataupun rujukan bahan pembelajaran secara bergliran.
c. Static Station Model
Model ini sama halnya dengan model selective dan sequential , yaitu apabila di sekolah hanya memiliki jumlah komputer yang minim. Namun dalam model ini guru memiliki beberapa sumber belajar ang berbeda tetapi untuk mencapai tujun pembelajaran yang sama .
d. Laboratory Model
Dalam model ini, bahan e-learning dapat digunakan oleh seluruh siswa sebagai pembelajaran, karena di sekolahnya telah memiliki sejumlah kompter (laboratorium) yang juga dilengkapi dengan jaringan internet.
REFERENCES
Komentar
Posting Komentar